...'Watashi wa Nippon ga suki'..

...'naneun hangug-eul joh-a'...

............I like korea...........

............I like japan...........

Note : if you do not understand with Indonesian leanguage, you can translate with the translator at the bottom of the red

jika ingin meng copy paste ' artikel yang ada di blog ALL ABOUT KOREA AND JAPAN, tolong cantumkan nama Credit/sumber serta alamat blog ALL ABOUT KOREA AND JAPAN ya ^^

Saturday, June 2, 2012

Pelukis Jenius Joseon, Jang Seung-eop



 Pelukis Jenius Yang Dikaruniai Tuhan
Ada banyak pelukis unggul dan jenius di Joseon, seperti Shin Phil, Ahn Gyeon, Shin Saimdang, Jeong Seon, Kim Hong-do, dll. Namun, ada tokoh lain yang dibicarakan saat mengungkapkan pelukis jenius. Dia tiada lain adalah Jang Seung-eop yang memiliki kemampuan dan bakat yang dikaruniai oleh Tuhan pada abad ke-19.

Bakat Melukis Yang Legendaris
Jang Seung-eop yang lahir pada tahun 1843 tinggal di rumah orang lain yaitu Yi Eung-heon (이응헌) sejak masih kecil, karena dia kehilangan kedua orang-tuanya. Yi Eung-heon adalah pejabat penerjemah pemerintah yang sering ke kerajaan Qing, Cina. Dia memiliki banyak lukisan, sehingga rumahnya selalu ramai sekali, karena orang-orang ingin menikmati karya seni lukis yang dia miliki. Oleh sebab itu, Jang Seung-eop memiliki peluang untuk melihat beraneka macam karya seni lukis di rumah Yi Eung-heon sejak masih kecil, sehingga belajar melukis secara alamiah tanpa guru.

Pada suatu hari, Jang Seung-eop mencoba melukis dengan kemauannya, namun lukisan itu cukup mengejutkan Yi Eung-heon. Setelah itu, Yi Eung-heon membuat Jang Seung-eop memusatkan pikirannya dalam melukis, sehingga Jang dapat menampilkan bakatnya sepuas-puasnya, dan juga mendapat banyak sorotan di bidang lukisan Joseon.

Mengibarkan Namanya
Walaupun Jang Seung-eop hanya dapat menuliskan nama saja karena tidak belajar, namun kemampuan melukisnya sangat mengagumkan, sampai-sampai tidak ada benda yang tidak dapat diekspresikan dengan kuasnya. Demikianlah, bakatnya cemerlang di bidang lukisan pemandangan, potret, dll, namun khususnya lukisan mengenai hewan-hewan terasa istimewa.

Hewan-hewan yang dia lukis terasa realistis seperti hewan sesungguhnya, sehingga gaya melukisnya cukup menyesuaikan minat kelas sosial yang kaya pada abad ke-19, 'Jungin'. Demikianlah, Jang Seung-eop semakin termasyur sampai-sampai dipanggil oleh raja untuk melukis.

Kehidupan Yang Bebas Tanpa Menghiraukan Aspek Duniawi
Seperti gaya melukis yang terasa bebas, sifat Jang Seung-eop juga tidak ingin terganggu dengan berbagai hal. Khususnya, saat sedang mabuk dan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik yang menuangkannya minuman, dia membuat lukisan paling indah.

Raja Gojong memberi perintah kepadanya agar melukis sekat ruangan yang terdiri dari 10 panel di kamar yang sepi dan hanya mengizinkan untuk minum sekali atau dua kali sehari. Akhirnya, peraturan dalam istana yang harus dipatuhi membuat Jang Seung-eop melarikan diri dari istana, karena dia tidak ingin memperhatikan aspek duniawi seperti kekuasaan, keberuntungan, gengsi, dll. Setelah itu, dia bebas melukis dengan mengelilingi beberapa daerah dan dia meninggal dunia pada tahun 1897 dalam usia 55 tahun.

Walaupun kematiannya tidak diketahui apa penyebabnya, namun Jang Seung-eop yang selalu mengungkapkan hal yang paling bernilai dalam hidup yang terasa sia-sia seperti awan hanya menampilkan lukisan yang telah dan akan terus hidup di dalam lukisannya.

Source : KBS World
Share : allaboutkoreaandjapan.blogspot.com

TAKE IT OUT WITH FULL CREDIT !!

Naskah kerajaan akan dikembalikan pada awal Desember


    

Pemerintah Jepang dilaporkan akan mengembalikan buku-buku kerajaan kuno dari dinasti Joseon ke Korea Selatan pada awal Desember paling cepat.

Menurut sumber dari Jepang, pemerintah Tokyo telah setuju akan mengembalikan 1.200 buku yang ditahan oleh pihak rumah tangga kekaisaran Jepang pada tgl. 1 Desember. Sumber itu menambahkan pembahasan rinci mengenai rencana pengembalian tersebut sedang berlangsung untuk mengembalikan dokumen-dokumen kerajaan, termasuk ‘Josoen Wangsil Uigwe.’

Menurut pihak Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, buku-buku yang akan dikembalikan itu akan segera diangkut melalui pesawat secara keseluruhan dan pembahasan tingkat tinggi masih sedang berlangsung sehingga tanggal kepastian untuk pengembalian buku-buku kerajaan itu belum tuntas.

Sesuai kesepakan kedua belah pihak yang mana sebelumnya Jepang menetapkan tanggal pengembalian 6 Juni, pemerintah Jepang akan mengembalikan pada tgl. 10 Desember sekitar 1.200 buku yang telah dijarah selama masa penjajahan Jepang di Semenanjung Korea.

Perdana Menteri Jepang, Yoshihiko Noda membawa 5 buku diantara 1.205 koleksi buku tersebut sewaktu mengunjungi Korea pada bulan Oktober lalu. Sisa 1.200 akan segera dikembalikan.

Source Kbs world 
Share : allaboutkoreaandjapan.blogspot.com

TAKE IT OUT WITH FULL CREDIT !!

1.200 buku kerajaan yang dijarah masa lalu dikembalikan dari Jepang


Seribu dua-ratus buku kuno kerjaaan Korea, termasuk 167 buku Joeson Wangsil Uigwe yang menggambarkan protokol kerajaan dinasti Joseon dikembalikan ke Korea pada hari Selasa.

Buku-buku itu diangkut dengan penerbangan Korea Air dua kali secara terpisah dari bandara internasional Narita, Jepang menuju bandara internasional Incheon pada hari Selasa sore.
Buku-buku yang dijarah masa lalu oleh imperilis Jepang telah tersimpan di Jepang selama 9 dekade. Buku-buku tersebut yang dikenal sebagai Uigwe ditahan oleh Badan Rumah Tangga Kekaisaran Jepang.

Menteri Luar Negeri Jepang, Koichiro Gemba memberikan tanggapanya pada hari Selasa bahwa walaupun terdapat kesulitan dalam hubungan Korea Selatan dan Jepang, sangat diharapkan pengembalian buku-buku bersejarah tersebut akan memberikan kontribusi guna meningkatkan kesadaran masyarakat kedua bangsa.


kbs@IniSajaMo
Copas :  allaboutkoreaandjapan.blogspot.com

TAKE IT OUT WITH FULL CREDIT !!

Korea menyambut Kembalinya Arsip Buku Kerajaan Dari Jepang




Arsip dan buku-buku berusia berabad-abad lamanya dari  kerajaan Dinasti Joseon , yang selama ini  disimpan di Badan Rumah Tangga Kekaisaran Jepang, akhirnya tiba kembali di Korea pada tanggal 6 Desember untuk pertama kalinya dalam satu abad.

Di tengah sukacita meluap dari kerumunan yang menyambut kepulangan yang telah lama ditunggu-tunggu, di kedatangan kargo  Bandara Internasional Incheon, dikawal oleh penjaga istana kerajaan dan disertai dengan ritual musik tradisional Korea, sujecheon.


Inilah  upaya mengembalikan benda sejarahtersebut  ke Korea yang akhirnya mendatangkan hasil, 13 tahun setelah Administrasi Warisan Budaya (CHA/Cultural Heritage Administration ) memulai investigasi lapangan di Jepang pada tahun 1998. Pemain penting lain yang terbukti berperan dalam mengejar usaha seperti itu juga hadir hari itu, seperti anggota  Komite Pemulihan Uigwe Dinasti Joseon yakni  kelompok sipil yang didirikan di tahun 2006 untuk mendukung repatriasi.


Kepemilikan arsip yang dijarah - termasuk lebih dari 1.000 catatan Uigwe, dari protokol kerajaan Dinasti Joseon - adalah subjek yang  kembali ke Korea tanggal 10 Desember tahun ini, menurut perjanjian bilateral diadopsi pada tanggal 14 November 2010 oleh Pemerintah  Korea dan Jepang. 2010 menandai peringatan 100 tahun pencaplokan Japans terhadap Korea.


Kembalinya  1.200 volume mengikuti lima volume yang Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda telah serahkan kepada Presiden Lee Myung-bak pada kesempatan pertemuan puncak bilateral mereka di Seoul pada bulan Oktober.Berbeda dengan buku-buku dari arsip kerajaan Korea Oegyujanggak, yang dikembalikan dalam setelah lima tahun dipinjamkan kepada Perpustakaan Nasional Prancis musim semi ini, Jepang mengalihkan kepemilikan warisan arsip ini untyuk  dipulangkan kembali ke Korea hari itu t
Setibanya di Bandara Internasional Incheon, Wakil Pertama Menteri Luar Negeri Park Suk-hwan dan Duta Besar Jepang Masatoshi Muto saling menkonfirmasi secara tertulis  serah terima dari catatan sejarah, di hadapan Kim Chan, administrator dari CHA.


Sehubungan dengan kembalinya arsip Dinasti Joseon , Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (MOFAT) mencatat kerjasama pemerintah Jepang. Menurut pernyataan oleh Cho Byung-je, juru bicara dan Wakil Menteri Humas MOFAT, pemerintah Korea mengharapkan bahwa kembalinya arsip akan memberikan kontribusi untuk meningkatkan pertukaran budaya dan kerjasama dan mengembangkan lebih lanjut hubungan antara kedua negara.


Sementara itu, upacara merayakan  kembalinya arsip kerajaan dan warisan dokumenter lainnya diselenggarakan pada tanggal 13 Desember di Jongmyo Shrine . Upacara ini dihadiri oleh Menteri Kebudayaan Choe Kwang-shik, serta akademisi, pejabat pemerintah, dan anggota Komite Pemulihan Uigwe Dinasti Joseon.


Administrasi Warisan Budaya mengatur acara lain ke upacara perayaan pada tanggal 16 Desember di Gunung Odae di Propinsi Gangwon  dan Candi Woljeongsa  dalam upaya bersama dengan Komite Pemulihan Uigwe Dinasti Joseon dan Provinsi Gangwon. Sebuah bagian dari protokol  kerajaan untuk memulangkan keaslian Dinasti Joseon yang pada awalnya disimpan di perpustakaan di Gunung Odae sebelum dibawa oleh Jepang.


Dimulai pada tanggal 27 Desember kembali Dinasti Joseon Uigwe dan arsip lainnya akan diresmikan kepada publik melalui pameran khusus di Museum Istana Nasional Korea dalam Gyeongbokgung Palace. Pameran ini akan berlangsung hingga 5 Februari 2011.


Untuk Info lebih lanjut dapat menghubungi :
* Cultural Heritage Administration: www.cha.go.kr (Korean and English)
* National Palace Museum of Korea: www.gogung.go.kr (Korean, English, Chinese and Japanese)






Source = Korea.net
Source : www.dynamic-korea.com... ( English Korean )
Trans Ind : IniSajaMo
Copas :  allaboutkoreaandjapan.blogspot.com

TAKE IT OUT WITH FULL CREDIT !!

Penyair Kim Su-yeong, Menjadi Akar Besar Bagi Syair Modern Korea


  


Karya Awal Penyair Kim Su-yeong Ditemukan
Karya awal seorang penyair yang dievaluasi sebagai karya sesungguhnya membuka ufuk baru di bidang syair modern Korea. Karya ini telah ditemukan baru-baru ini. Itu tiada lain adalah syair berjudul 'Untuk Itu' yang diterbitkan pada tahun 1953 saat meletusnya Perang Korea. Penyair yang mengungkapkan kemalangannya yang terpaksa digelutinya karena situasi era dan sejarah lewat sastra, yaitu Kim Su-yeong... Apa makna kata 'itu' yang terdapat di dalam syairnya?


Awalnya Modernisme
Kim Su-yeong yang lahir pada tahun 1921 di Jongno, Seoul mulai melakukan kegiatan sastra setelah kemerdekaan Korea pada tahun 1945. Dia bergaul dengan penyair yang dipengaruhi oleh kalangan modernisme seperti Kim Gi-rim, Kim Gwang-gyun, dll dan juga menerbitkan syairnya berjudul 'Song of the Royal Shrine’ lewat majalah sastra yang diterbitkan untuk pertama kali setelah kemerdekaan Korea.

Setelah itu, lewat syairnya 'Confucius’ Difficulty in Daily Life’ pada tahun 1949, dia menunjukkan puncak modernisme dan pandangannya yang memandang masyarakat modern. Namun pada tahun 1950, dia terpaksa mengalami kesengsaraan mengerikan secara langsung.

Kehidupan Yang Menyedihkan
Saat meletusnya Perang Korea, dia mengalami kesengsaraan, karena dia dikerah secara paksa dalam pasukan Korea Utara dan akibatnya, dia ditahan dalam kamp tawanan pulau Geoje. Kesengsaraan yang dia alami diungkapkan di dalam syair yang diterbitkan pada tahun 1953. Namun setelah itu, kesengsarannya tetap berlangsung, karena dia harus mencari rezeki lewat penerjemahan, bukan membuat syair lagi.

Bagi Kim Su-yeong yang menciptakan banyak syair yang bersifat modernisme, tahun 50-an membuat dia menyadari bahwa syair tidak jauh dari kehidupan nyata. Setelah itu, dia menggunakan kata-kata biasa dalam syair dan mengalami perubahaan dalam hidupnya pada tahun 1960.


Penyair Untuk Partisipasi Dan Tantangan
Saat berlangsungnya gerakan revolusi pada tanggal 19 April 1960, penyair Kim Su-yeong juga ikut ambil bagian dalam gerakan demonstrasi yang dikuasai oleh warga sipil dan kalangan pelajar untuk mewujudkan demokrasi. Untuk mengungkapkan perasaan yang bergelora pada waktu itu, dia menciptakan banyak syair, namun kudeta 16 Mei tahun 1961 kembali mengecewakannya. Walaupun dia menciptakan syair yang mengkritik kenyataaan secara tajam, namun dia menyadari bahwa dia hanyalah seseorang intelektual kritis yang berhadapan dengan masyarakat tertutup di bawah penindasan politik. Oleh karena itu, dia sering menciptakan syair yang mencemoohkan diri, namun pada tahun 1968, dia menerbitkan syair yang penuh harapan berjudul 'Rumput' yang mengandung daya hidup dari masyarakat.

Lewat daya hidup dari rumput, dia mengungkapkan bahwa masyarakat harus tetap menjalani hidupnya tanpa menyerah walaupun mudah jatuh dan juga merasa kecewa. Namun, sangat disayangkan, dia meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas pada tanggal 16 Juni 1968 dalam 15 hari saja sejak syair tersebut diterbitkan. Setelah kematiannya, pengaruh dari penyair Kim Su-yeong cukup besar, sehingga hal ini menjadi akar terbesar bagi sastra Korea. Penyair Kim Su-yeong yang menyambut genap 90 tahun kelahirannya akan tetap berperan sebagai pohon besar bagi sastrawan generasi berikutnya.

Source Kbs world
Share : allaboutkoreaandjapan.blogspot.com
 TAKE IT OUT WITH FULL CREDIT !!

Tokoh Legendaris Di Dalam Seni Berjalan Di Atas Tali, Baudeogi



Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Non-bendawi Manusia, Seni Berjalan Di Atas Tali

Tanggal 28 bulan lalu, tiga warisan non-bendawi Korea Selatan berhasil didaftarkan sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Non-bendawi Manusia, yang meliputi seni berjalan di atas tali, bela diri taekkyon, dan tenunan rami dari wilayah Hansan. Khususnya, seni berjalan di atas tali mendapat pengakuan sebagai seni pementasan tradisional yang menggabungkan musik tradsional, gerakan dan ekspresi simbolis.

Jika menyaksikan kegiatan berjalan di atas tali pada ketinggian 3 meter tanpa peralatan keamanan yang menunjukkan keterampilan, kita dapat merasakan ketegangan dan juga kenikmatan. Nah, hari ini, kami perkenalkan seorang tokoh yang mahir berjalan di atas tali bernama 'Baudeogi'.


Satu-satunya Kkokdusoe Atau Pemimpin Wanita Dari Kelompok Namsadang

Baudeogi yang lahir di kota Anseong dengan nama Kim Am-deok pada tahun 1848 menjadi anggota Kelompok Namsadang yang menunjukkan atraksi, dansa dan lagu dengan berkeliling di pelosok daerah di Joseon saat dia berumur 5 tahun. Alasannya adalah karena ayahnya menitip putrinya, Baudeogi kepada Kelompok Namsadang yang sering tinggal di kota Anseong yang dipadati oleh para pedagang.

Walaupun Baudeogi terpaksa belajar seni keterampilan di Kelompok Namsadang, namun dia berhasil mengibarkan namanya. Bakatnya, khususnya keterampilan berjalan di atas tali mampu memikat hati para penonton dan memperoleh banyak ketenaran. Akhirnya, saat dia berusia 15 tahun, dia menjadi Kkokdusoe, yaitu pemimpin Kelompok Namsadang sebagai wanita dan dia mengembangkan Kelompok Namsadang sebagai kelompok hiburan terunggul.

 Menerima Kancing Giok Sebagai Hadiah

Tahun 1865 ketika menyambut genap 3 tahun setelah dia memimpin Kelompok Namsadang yang beranggotakan 100 orang, Baudeogi mendapat undangan istimewa. Pada waktu itu, Pangeran Internal Agung Heungseon, Heungseon Daewongun melanjutkan kembali pendirian Istana Gyeongbok, namun hal tersebut tidak berjalan lancar akibat besarnya biaya pendirian dan perekrutan tenaga kerja. Untuk menghidupkan semangat dan menghibur para tenaga kerja, Heungseon Daewongun mengundang Baudeogi. Berkat pementasan Baudeogi, para tenaga kerja berhasil memperoleh energi dan semangat, sehingga Heungseon Daewongun menghadiahkan kancing giok yang dapat digunakan oleh kelas tinggi kepada Baudeogi. Setelah itu, Kelompok Namsadang yang dipimpin oleh Baudeogi lebih terkenal dan kelompok itu dijuluki sebagai 'Kelompok Baudeogi'. Namun, waktu ketika masyarakat Joseon dapat menyaksikan penampilan Baudeogi tidak begitu lama berlanjut.

 Seniman Yang Menjalani Hidupnya Seperti Kembang Api

Walaupun berhasil memperoleh gengsi terunggul sebagai seniman, dia meninggal dunia pada tahun 1870 dalam usia 23 tahun akibat penyakit paru-paru. Namun, Baudeogi yang menghibur dan menghidupkan semangat rakyat sebagai wanita dari kelas budak masih diperingati dan dikenang sebagai seniman terunggul di Korea.


Source KBSWorld 
Share : allaboutkoreaandjapan.blogspot.com
TAKE IT OUT WITH FULL CREDIT !!
 
 

Jenderal Kerajaan Shilla, Isabu





Tahun 2012 Adalah Genap 1500 Tahun Pemasukkan Usanguk Ke Dalam Sejarah Korea

Menjelang pekan terakhir dari bulan Desember yang akan menyambut tahun 2012 dalam waktu dekat, ada seorang tokoh yang terbayang di dalam benak masyarakat Korea. Dia tiada lain adalah jenderal kerajaan Shilla, Isabu yang memasukkan sebuah negara kepulauan dinamakan 'Usanguk' ke dalam sejarah Korea pada tahun 512. Tahun 2012 adalah genap 1500 tahun sejak negara Usanguk yang memimpin pulau Uleung dan pulau Dok di laut Timur dimasukkan ke dalam sejarah Korea. Belakangan ini, penelitian mengenai kegiatan jenderal Isabu aktif dilaksanakan.

 Siapa jenderal Isabu?

Walaupun namanya cukup terkenal, namun catatan mengenai data pribadinya hampir tidak ada. Akan tetapi, menurut sejumlah buku catatan sejarah, marga jenderal Isabu adalah klan Kim dan berperan penting dalam menaklukkan kerajaan Gaya. Jenderal Isabu mengibarkan namanya menjelang abad ke-6 saat dipimpin oleh raja Jijeung, Beopheung, dan Jinheung, namun keberanian dan kebijaksanaannya paling cemerlang pada tahun 512.


 Bagaimana Jenderal Isabu Berhasil Menaklukkan Negara Usanguk?

Tahun 512 di bawah pimpinan raja Jijeung, Isabu memimpin pasukan untuk menaklukkan negara Usanguk di laut Timur. Pada waktu itu, kerajaan Shilla terus memperluas wilayahnya, sehingga negara kepulauan di laut Timur, Usanguk terasa sangat penting secara strategis karena kekuatan maritim di laut Timur tergantung pada negara yang bergabung dengan Usanguk.

Untuk menaklukkan Usanguk sebagai wilayah kerajaan Shilla, jenderal Isabu memanfaatkan kebijaksanaan bukan kekuatan. Usanguk terletak di tengah laut yang jauh dari daratan, bahkan ombak besar di sekitar pulau Uleng dan pulau Dok membuat para perahu atau kapal dari negara lain tidak dapat berlabuh. Dengan alasan tersebut, Usanguk tidak mau menyerah, sehingga jenderal Isabu mengancam mereka dengan membawa sejumlah singa yang dibuat dari kayu. Dengan kata lain, dia mengatakan jika Usanguk tidak menyerah ke Shilla, dia akan menaklukkannya dengan melepaskan singa-singa yang dia bawa ke Usanguk. Akhirnya, Usanguk yang menganggap penampilan singa kayu sebagai singa yang asli menyerah dan berjanji untuk memberikan upeti ke kerajaan Shilla. Itulah saat dimana pulau Uleng dan Dok dimasukkan ke dalam sejarah Korea.


 Nama Yang Diperingati Diiringi Dengan Pulau Dok

Demikianlah, kerajaan Shilla semakin menjadi kuat, dan wilayahnya terus diperluaskan sampai sekitar sungai Han. Pada tahun 541, jenderal Isabu diangkat sebagai jabatan tinggi, dan menyediakan landasan untuk menyatukan tiga kerajaan dengan menaklukkan kerajaan Daegaya dan daerah-daerah di bagian bawah dari sungai Nakdong.

Untuk memperingati jasanya yang diperoleh menjelang tahun 549, sebuah tugu peringatan didirikan di Danyang, Chungcheong Utara. Selain berperan penting dalam menyatukan tiga kerajaan, jenderal Isabu memasukkan Usanguk ke wilayah Shilla. Dengan demikian, dia menyediakan fakta atau bukti sejarah pertama yang berisi bahwa pulau Dok milik Korea. Dari segi itu, keberadaan jenderal Isabu terasa sangat penting dan bermakna.




Source : KBS World
Share : allaboutkoreaandjapan.blogspot.com

Seorang Kaligraf Kenamaan Di Kerajaan Joseon, Han Ho


 


Sebuah Kisah Terkenal Yang Terbayang Ketika Menyaksikan Kue Berase

Setiap pergantian tahun, masyarakat Korea memakan sup kue beras yang dinamakan 'Tteok Guk' pada hari pertama tahun baru agar dapat menjalani hidup panjang seperti halnya kue beras yang berbentuk bulat memanjang. Oleh karena itu, menjelang awal tahun, di setiap rumah orang Korea akan terdengar suara orang yang sedang memotong kue beras, dan beberapa diantara mereka melakukan hal tersebut sambil menceritakan sebuah kisah yang pernah mereka dengar dari para orang tua mereka secara turun menurun.

 Han Seok-bong Dan Ibunya

Pada suatu hari, seorang anak laki-laki yang sedang belajar di sebuah sekolah tradisional Korea, Seodang pulang ke rumahnya dan berkata pada ibunya bahwa dia merasa tidak ada yang harus dia pelajari lagi karena dia telah terlalu banyak belajar. Ibunya yang menjadi tulang punggung kehidupan si anak dengan berjualan kue itu langsung mematikan lampu setelah mendengarkan ucapan anaknya tersebut. Setelah mematikan lampu, dia meminta kepada anaknya untuk menuliskan sebuah tulisan di atas kertas sambil dia memotong kue. Beberapa saat berselang, si ibu menyalakan kembali lampu yang telah dimatikannya tadi. Si anak melihat hasil tulisannya yang tidak rapi. sebaliknya si anak melihat potongan kue yang sangat rapi yang dipotong oleh ibunya walaupun dikerjakan dalam keadaan gelap gulita. Hal ini kemudian yang mendorong si anak untuk belajar lebih giat lagi hingga dia menjadi seorang kaligraf ternama pada masa kerajaan Joseon. Si anak itu tiada lain adalah Han Ho. 

 Dibesarkan Sebagai Seorang Kaligraf Kenamaan

Seok-bong adalan nama penanya, namun nama aslinya adalah Han Ho. Sebelum dia lahir, seorang ahli nujum meramal bahwa dia ditakdirkan akan menjadi seorang kaligraf terkenal. Namun, Han Ho yang dibesarkan dalam keluarga miskin di bawah asuhan ibunya yang hanya seorang penjual kue itu, tidak mampu untuk membeli sehelai kertas pun. Oleh karena itu, dia berlatih menulis dengan menggunakan air di atas batu atau daun. Walaupun begitu, ibunya melihat bahwa dia sangat memiliki bakat dalam menulis kaligrafi, hingga akhirnya ibunya mengirim dia belajar di bawah seoarang kaligraf ternama, Shin Hui-nam. Pada akhirnya, Han Ho berhasil lulus ujian negara pada usia 24 tahun, dan diangkat sebagai pejabat negara yang dinamakan 'Sajagwan', yaitu pejabat yang mengurus dokumen diplomatik dan buku raja. Demikianlah sekelumit awal perjalanan hidup Han Ho hingga pada akhirnya dia mengibarkan namanya sebagai kaligraf terbaik pada masa kerajaan Joseon. 

 Mengibarkan Namanya Sebagai Kaligraf Kenamaan

Lewat latihan yang terus menerus, Han Ho menciptakan gaya tulisannya sendiri tanpa menirukan gaya Cina. Mulai tahun 1572 hingga 1601, dia berangkat ke Cina sebagai pejabat 'Sajagwan'. Di Cina dia mendapat evaluasi tinggi terhadap tulisannya dari sarjana ternama Cina.

Selain itu, Raja Seonjo di kerajaan Joseon juga menilai tinggi hasil karya Han Ho, sehingga beliau meminta kepada Han Ho agar menuliskan buku 'Seribu Huruf Cina'. Buku yang dibuat dengan gaya tulisan Seokbong ini diterbitkan di seluruh daerah di Joseon, sehingga membuat gaya tulisannya semakin terkenal.
 
 Hanya Meninggalkan Tulisan Di Dunia

Han Ho yang menjalani hidupnya sebagai 'Sajagwan' meninggal dunia pada tahun 1605. Walaupun memiliki jabatan di sekitar raja, dia tidak mempunyai kekayaan, bahkan dia tidak dapat mendirikan tugu peringatan. Inilah alasan mengapa kuburannya baru ditemukan pada tahun 2010. Han Ho tidak meninggalkan apapun di dunia ini kecuali tulisannya.... Namun, tulisan yang dia tinggalkan dapat mengungkapkan kehidupannya sebagai kaligraf terbaik di masa kerajaan Joseon.




Source : KBS World
Share : allaboutkoreaandjapan.blogspot.com

Diplomat Yang Mewakili Joseon, Lee Ye




Penulis Jepang Menyumbangkan Novel 'Utusan Joseon Pertama, Lee Ye'

Seorang penulis Jepang menyumbangkan buku novel yang mengandung kehidupan seorang diplomat Joseon, Lee Ye ke pihak lembaga Konfusianisme, Seokgye Seowon di Ulju, Ulsan pada bulan lalu. Penulis tersebut merangkap pengacara bernama Kanajumi Noriyuki sangat terharu pada kehidupan diplomat Joseon, Lee Ye, sehingga berencana untuk membuat film. Lee Ye yang masih terasa asing bagi bangsa Korea... Siapa dia, sehingga dia mendapat sorotan di negara lain?

 Tokoh Yang Berhasil Naik Kelas Tinggi Ke Yangban Dari Kelas Tengah Jungin

Lee Ye lahir di rumah kalangan kelas menengah di kota Ulsan pada tahun 1373. Saat dia berusia 8 tahun, ibunya diculik oleh bajak laut Jepang, sehingga terus mencari ibunya sepanjang kehidupannya. Oleh karena itu, dia cukup memahami betapa perihnya kesengsaraan rakyat yang diakibatkan kejahatan bajak laut Jepang yang terus berlangsung mulai akhir kerajaan Goryeo. Walaupun ketertiban status sosial sangat ketat pada era Joseon, namun dia memperoleh kesempatan untuk naik kelas status.

Pada bulan Desember tahun 1396, Lee Ye yang berstatus pegawai pemerintah kelas bawah bertolak ke pulau Tsushima untuk menyelamatkan jiwa bupati Ulsan yang ditangkap oleh bajak laut Jepang. Walaupun dia ditahan sebagai sandera, dia terus membujuk tentara Jepang agar membebaskan bupati, Akhirnya, bajak laut Jepang yang terkagum pada kesetiaan dan upaya dari Lee Ye membebaskan sang bupati dan pemerintah Joseon juga menghargai kesetiaannya, sehingga tidak hanya meningkatkan status tetapi juga memberikan jabatan. Demikianlah, Lee Ye mulai naik jabatan dan diangkat sebagai utusan diplomat oleh raja Taejong secara resmi.



Pengiriman Ke Jepang Untuk 40 Kali

Setelah dikirim ke Jepang sebagai utusan Joseon untuk pertama kali pada tahun 1401, Lee Ye memperoleh jasa tinggi sebagai diplomat yang memiliki pengetahuan luas, kemampuan berbahasa asing dan daya negosiasi yang dinilai bijaksana. Sampai tahun 1410, dia berhasil membebaskan 667 tahanan Joseon dari Jepang.

Pada tahun 1428 di bawah pimpinan raja Sejong, istilah 'Tongsinsa' yang berarti 'utusan yang dikirim ke Jepang' digunakan untuk pertama kali dan Lee Ye yang menjadi Tongsinsa Joseon pertama bertemu dengan raja Jepang secara langsung untuk mencegah kejahatan bajak laut Jepang. Lee Ye yang mencintai rakyat Joseon belajar budaya, kebijakan dan situasi Jepang secara keseluruhan, sehingga menjadi pakar tentang Jepang, sampai-sampai mampu menghadapi raja Jepang. Demikianlah, Lee Ye yang menguasai diplomasi terhadap Jepang berperan penting dalam penandatanganan Perjanjian Gyehye yang mengandung sistem perdagangan antara Joseon dan Jepang pada tahun 1443.


Menandatangani Perjanjian Gyehye Yang Menjadi Dasar Diplomasi Antara Joseon Dan Jepang

Perjanjian Gyehye mengenai perdagangan antara Joseon dan Jepang bermanfaat untuk menstabilkan hubungan diplomatik antara kedua negara. Lewat perjanjian tersebut, kawasan selatan Joseon, termasuk Ulsan terasa damai,dan Joseon dapat mengontrol bajak laut Jepang secara efisien. Lee Ye yang menyaksikan budaya Jepang berupaya untuk bertukar budaya antar-negara. Untuk memperingati jasanya, tugu peringatan Lee Ye didirikan di sebuah kuil di Tsushima, Jepang dan raja Sejong juga sangat menghargai Lee Ye. Dengan usainya tugas terakhir dimana menyelamatkan 7 tahanan Joseon, Lee Ye meninggal dunia pada tahun 1445. Kehidupan dan jasa Lee Ye sebagai diplomat cukup menjadi keteladanan bagi diplomat pada era ini.


Source : world.kbs.co.kr
Share : allaboutkoreaandjapan.blogspot.com
TAKE IT OUT WITH FULL CREDIT !!

Sastrawan Jenius Di Joseon, Kim Si-seup




Kim Si-seup, Siapa Dia?

Kim Si-seup adalah anak jenius yang belajar buku konfusianisme Cina 'Kitab Ajaran Besar' dan 'Kitab Tengah Sempurna' saat dia masih kecil dan telah menciptakan syair dan esei, seorang sarjana yang menantang terhadap perebutan tahta raja dari raja Sejo, biksu yang memusatkan pikiran untuk belajar Buddhisme, penyair atau penulis novel yang jenius... Penerangan tersebut berhubngan dengan karir mengenai Kim Si-seup, namun penerangan tersebut tidak cukup untuk mengungkapkan penampilan Kim Si-seup.

 Orang Jenius Yang Dijuluki Sebagai 'Anak Jenius Berumur Lima Tahun'

Kim Si-seup yang lahir pada tahun 1435 belajar menulis dalam 8 bulan setelah lahir dan saat dia berusia 3 tahun, dia menciptakan syair dalam bahasa Cina. Gengsi mengenai dia disampaikan kepada raja Sejong, sehingga dia diperintahkan untuk masuk ke istana. Raja Sejong juga terkagum pada bakatnya untuk membuat tulisan, sehingga dia menjulukinya sebagai 'anak jenius berumur lima tahun‘. Raja Sejong juga berjanji bahwa dia akan memanfaatkan bakatnya jika dia menjadi orang dewasa. Namun, janji itu tidak dapat ditepati.

 Menjaga Kesetiaan Terhadap Dunia Yang Tidak Adil

Saat dia berusia 15 tahun, ibunya meninggal dunia dan setelah itu, dia terus mengalami kesedihan akibat kehilangan anggota keluarga. Oleh karena itu, dia gagal lulus ujian negara saat dia berusia 19 tahun. Setelah itu, dia belajar sekeras-kerasnya di kuil Jungheung, namun pada tahun 1455, dia merasa kesal, karena pangeran besar Suyang merebut tahta raja dari keponakan raja Danjong, sehingga dia menjadi biksu dengan membakar buku-bukunya. Dengan demikian, Kim Si-seup dijuluki sebagai 'Saengyukshin', yaitu salah satu sarjana dari 6 sarjana yang berjanji tidak naik jabatan di bawah pimpinan raja baru untuk menjaga kesetiaan terhadap raja Danjong.

Setelah dia menguburkan 6 orang sarjana 'Sayukshin' yang menjaga kesetiaan dengan kematian karena dieksekusi akibat gagalnya mengembalikan Danjong ke tahta raja, Kim Si-seup berkeliling di seluruh daerah selama 9 tahun. Pada waktu itu, dia menciptakan 2.200 buah syair untuk mengungkapkan rasa keprihatinan dan kesedihan. Khususnya pada tahun 1465, dia berkunjung ke gunung Nam di kota Gyeongju dan di sana dia menciptakan karya yang menorehkan tinta emas dalam sejarah sastra.

 Menulis Novel Berbahasa Cina Yang Pertama di Korea, Geumoshinhwa

Dia menciptakan novel pertama berbahasa Cina klasik di Korea berjudul 'Geumoshinhwa' yang berarti 'mitos dari gunung Geumo'. Lewat berbagai peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh yang berbakat tinggi di dunia khayalan dari novel 'Geumoshinhwa', Kim Si-seup mengungkapkan bahwa kasih sayang dan ketulusan hati yang terdapat di dunia manusia tidak boleh dikesampingkan.

Demikianlah Kim Si-seup mengungkapkan filsafatnya lewat novel itu, dan terus menciptakan karya. Namun, dia kembali berkeliling setelah situasi negara menjadi kacau lagi akibat 'peristiwa ratu Yun yang diasingkan'. Akhirnya, dia meninggal dunia pada tahun 1493 dalam usia 58 tahun. Walaupun dia menjalani hidupnya dengan berkeliling tanpa terikat dengan apapun, namun pandangan luas yang mencakup konfusianisme, buddhisme dan taoisme serta karya tulisan yang terasa indah dan dinamis dicintai oleh banyak sarjana dan raja di Joseon. Sesuai dengan nama pena ‘Mae Wol Dang' yang berarti 'bunga aprikot dan bulan', Kim Si-seup menjaga kesetiaan di dalam kekacauan politik seperti halnya bunga aprikot yang melambangkan 'kesetiaan'.


Source : KBS News(Ind)
Share :allaboutkoreaandjapan.blogspot.com

Ungkapan Salam


-Yang Umum diucapkan di Awal Pembicaraan:

おはようございます
Ohayou / Ohayou gozaimasu
“selamat pagi”

こんいちは
Konnichiwa
“selamat siang”

こんばんは
Konbanwa
“selamat malam”

Bentuk Perintah


「~ください」- konjugasi khusus dari 「くださる」
「く ださい」 adalah konjugasi khusus dari 「くださる」, yang merupakan bentuk hormat dari 「くれる」. Kita akan belajar lebih lanjut tentang bahasa hormat dan rendah diridi bab lain. Kita akan membahas 「ください」 di sini karena artinya agak berbeda dari 「くれる」 maupun 「くださる」. 「ください」 berbeda dengan 「くれる」 seperti ditunjukkan pada contoh berikut:

(1) それをください。- Tolong berikan itu.
(2) それをくれる?- Bisakah kamu memberiku itu?
Seperti bisa kamu lihat, 「ください」 adalah permintaan langsung sedangkan penggunaan 「くれる」 lebih ke arah bertanya. Namun sama seperti 「くれる」, kamu bisa membuat permintaan hanya dengan menempelkannya ke bentuk-te verba.
(1) 漢字で書いてください。- Tolong tulis dalam kanji.
(2) ゆっくり話してください。- Tolong bicara perlahan.

Cara mudah ngobrol bahasa Jepang dalam Sehari-hari

Scara gramatik erarti “sulit (bagi saya) utk menerima (kebaikan dari anda)”. Di ucapkan ktika org lain telah membantu / memberikan sesuatu kepada kita.
Ungkapan terima kasih ini mempunyai berbagai macam varian.
Kita bisa menambahkan kata どうも– Doumo di depannya, yang bisa diartikan “Sangat/Sekali” どうも ありがとう ございます.
Kita-pun dapat jga mengubahnya menjadi bentuk lampau, ketika bantuan/sesuatu dari org lain tlah qt terima ありがとう ございました.
Dpt juga kita pakai gn cara memenggal&mengambil salah satu katanya saja どうも atau ありがとう saja, yg sdh berarti “Terimakasih” namun mrupakan ungkapan tidak formal / ungkapan plain.
Di kalangan remaja, ada kata サンキュー – Sankyuu yang diserap dari kata bhs Inggris ”Thankyou”. Bahasa Slank ini kadang ditulis dengan angka 39 (angka 3 dlm bhs jepang dibaca “san” & angka 9 dibaca “kyuu”), bahasa sms nee…

Penggunaan Tenses / waktu pada "TOKI"


"TOKI" menunjukkan waktu pada saat melakukan suatu perbuatan atau aktivitas.Dalam bhsa indo berarti "ketika~" "pada saat~" "saat~"

pembentukannya :

kata krja bntuk dasar + toki
contoh:
taberu toki = saat makan
iku toki = saat pergi
yonda toki = saat membaca (lampau)

kt sifat I + toki
contoh:
atsui toki = saat panas
kanashii toki = saat sedih

~tokoro da & ~ta tokoro da


1. [kata kerja bentuk kamus + tokoro da]

[kata kerja bntuk kamus + tokoro da] menunjukkan hal dimulainya suatu aktivitas/kejadian atau titik dimana suatu aktivitas/kejadian tepat dimulai.

contoh:

choudo ima kara shiai ga hajimaru tokoro desu
pertandingan dimulai dari sekarang ini(pertandingannya persis tepat dimulai)

                                point dimana pertandingan tepat dimulai = shiai ga hajimaru tokoro desu
--------|---------------------O-------------->
      pertandingan blm dimulai

son kei


SONKEI
BAHASA FORMAL
(尊敬語)

O [+VERB] NI NARU

Kaeru / kaerimasu / O kaerini narimasu
先生は もう おかえりになりました
Sensei wa mou OKAIRI narimashita

Kaku / kakimasu / o kakini narimasu
これは たなか先生が おかきになった本です
Kore wa Tanaka sensei ga OKAKINI natta hon desu
(Ini buku, Tanaka sensei yang nulis)

keigo

 “O genki desu ka ?”
Pasti kata ini sudah biasa kita dengar atau baca dalam pelajaran bahasa Jepang. Ini adalah salah satu contoh bahasa sopan, yang umumnya ditandai dengan tambahan huruf O didepannya. Jawaban dari salam di atas Anda pasti sudah tahu, bukan ? “Genki desu”. Kenapa huruf O didepan dihilangkan ? Inilah mungkin salah satu keunikan dari bahasa Japang yaitu tidak boleh "menghormati diri sendiri", seperti halnya kata "San" untuk nama yang tidak boleh dipakai untuk diri sendiri.
Anda pasti sudah tahu kalau Omizu terjemahan untuk kata Air, Okome (beras), Okane (uang) dll. Ini juga bahasa sopan dalam bentuk lain, yaitu sebagai penghormatan terhada benda.
Begitu banyak dan kaya-nya pembendaharaan kata dan ungkapan sopan yang mereka miliki sehingga cukup menarik untuk dipelajari namun juga sekaligus membingungkan atau bahkan kadang keterlaluan. Secara umum ada 3 kelompok bahasa sopan yaitu Sonkei Go (Deferential) atau Bahasa Formal, Teinei Go (Polite) atau bahasa Sopan dan Kenjou Go (Humble) atau bahasa merendahkan diri. Untuk bahasa Indonesia cukup diterjemahkan dengan satu kata yaitu : Bahasa Sopan. Selengkapnya bisa dibaca lanjutannya di bawah ini.

 TEINEI 
BAHASA SOPAN
(丁寧)
Standard 

Friday, June 1, 2012

Kuasai Chart Musik Digital, Teen Top Kalahkan IU - Sub Unit SNSD

Kuasai Chart Musik Digital, Teen Top Kalahkan IU - Sub Unit SNSD

Setelah merilis lagu To You pada Rabu (30/5) dini hari, boyband K-Pop Teen Top langsung menguasai chart musik di berbagai situs musik online seperti Melon, Bugs, Cyworld, Soribada dan lainnya. Hal ini membuktikan bahwa Angel (fans Teen Top) begitu menantikan.

Teen Top bahkan berhasil mengalahkan penyanyi perempuan yang biasanya menguasai chart musik online seperti IU, Baek Ji Young dan sub unit girlband Girls Generation. Sehingga raihan ini begitu dianggap luar biasa.

Dalam perilisan album terbaru mereka ini, Teen Top meraih antusias penggemar lantaran konsep baru dan dance sempurna yang mereka tawarkan. Kali ini Teen Top menampilkan koreografi dance yang begitu emosional sehingga penggemar menunggu bagaimana penampilan live mereka yang akan disuguhkan.

Untuk lokasi setting kubus di dalam MV To You, agensi bahkan mempersiapkan sekitar KRW100 Juta (sekitar Rp800 juta-an) untuk membangun settingan kubus tersebut, dan hal itu menjadi topik yang diperbincangkan.

Lagu To You merupakan lagu dengan irama dance dan up-beat serta lirik dan melody yang dibuat oleh produser musik K-Pop terkemuka, Brave Brothers. Dan setelah merilis MV sebelumnya, Teen Top akan comeback melalui program musik KBS, Music Bank.

Source :dkpopnews.net
Credit : kapanlagi com
Share : allaboutkoreaandjapan.blogspot.com

Saranghae, I Love You: Behind The Scene


1. Kru Saranghae beruntung banget karena selama syuting di Korea (bulan Maret 2012), salju masih sempat turun sebanyak 2 kali. Padahal biasanya di masa-masa itu, sudah bukan musimnya lagi untuk turun salju. Salah satu lokasi syuting yang dipilih adalah sebuah rumah di dalam pegunungan bersalju yang terletak di dekat Pyeong Chang Alpencia.

Bukan perkara mudah untuk melakukan syuting di sini. Karena letaknya yang di pegunungan, mereka harus menghemat listrik dan mobil mereka sempat mogok 2 kali. Yang bikin situasi syuting ini makin menantang adalah karena saat itu suhunya -10 derajat! Meskipun kedinginan dan membeku, tapi mereka harus menyelesaikan syuting di lokasi tersebut, karena mengejar momen turun salju yang sangat indah itu. Bahkan ada salah satu kru yang hampir pingsan karena nggak tahan dengan udara dingin ini. Untungnya, setelah 10 jam, syuting berakhir juga.

2. Setelah sekian lama tinggal di negara Indonesia yang beriklim tropis ini, pastinya badan jadi shock banget saat tiba-tiba dihadapkan dengan udara dingin membeku. Inilah yang dihadapi oleh tim dari Indonesia saat mereka tiba di Korea dan disambut oleh suhu yang minus, bersalju plus angin dingin menggigit. Flu, batuk dan sakit punggung mendera sebagian kru Indonesia.
Supaya kondisi mereka nggak semakin drop, maka tim Indonesia pun dibawa ke rumah sakit untuk mendapat suntikan vitamin, supaya nggak ada yang sakit-sakitan dan syuting berjalan lancar. Karena kendala cuaca inilah jadwal syuting di Korea pun jadi molor; yang tadi rencananya hanya 18 hari, jadi molor menjadi 25 hari.


3. Ini adalah pertama kalinya Reva pergi ke Korea, dan dia nggak menyangka bahwa cuacanya akan sedingin itu. "Persiapanku bener-bener kurang; aku cuma bawa jaket yang nggak begitu tebal. Tapi ternyata di sana dingiiiin banget." Untung Tim meminjamkan jaket hitamnya yang super tebal. "Ukuran badan Tim 'kan gede, jadi jaketnya nutupin tubuhku sampai ke dengkul segala. Bodo amat deh keliatan kegedean. Udah nggak mentingin gaya lagi lah, yang penting hangat…"

4. Salah satu lokasi syuting Saranghae adalah di amusement park Lotte World. Psst, Saranghae mendapat special permission dari Lotte World untuk turut serta dan melakukan syuting dalam parade Lotte World, lho. Asal tahu saja, ini adalah pertama kalinya drama Korea mendapat izin seperti ini. That's because Saranghae is so special! Dan mumpung lagi berada di Lotte World, maka para pemain dan kru sekalian bermain di sana. Wahana favorit mereka adalah wahana sejenis kora-kora di Dufan.

5. Ada satu adegan dimana Reva dan Tim melakukan adegan snow-skiing. Ada kejadian lucu: Salah satu ski instructor di Pyeong Chang Alpencia ternyata pernah tinggal di Jakarta dan fasih berbahasa Indonesia. Alhasil, beliau lah yang mengajari Revalina untuk main snow ski. It's a small world, afterall :)

6. Jiwa iseng Tim lagi kumat. Sementara sutradara Indrayanto dan DOP (director of photography) lagi sibuk melakukan blocking, Tim nggak tahan melihat kamera nganggur. Alhasil, dia pun langsung mengambil alih duduk di belakang kamera dan mulai memainkan kamera tersebut. Hmm, kayaknya Tim nggak hanya pengin jadi aktor di depan layar aja, nih.

7. Selesai syuting penuh salju di Korea, tim Saranghae langsung pindah lokasi syuting ke Bali yang panas. Kali ini gantian tim dari Korea yang kena shock. Termasuk juga Tim. Apalagi ada adegan dimana Tim harus berlari di bawah matahari Bali dengan kostum lengkap. "It was so hot, I think almost fainted."

Selain soal perbedaan cuaca, Tim juga amazed dengan budaya Bali. Hal ini ia rasakan saat syuting di desa adat Tenganan, Karangasem, dimana mereka melakukan syuting di rumah salah satu penduduk yang arsitekturnya memang Bali banget. "The culture here is so magnified, because we're not filming in a tourist place."



8. Coba tebak, apa salah satu buah favorit orang Indonesia? Yup benar, buah durian. Ada satu adegan dimana Tim Hwang harus makan durian. Di adegan tersebut, Young Min (nama karakter yang diperankan Tim) benar-benar nggak suka dengan rasa durian dan malah hampir muntah segala. Pada kenyataannya, Tim ternyata memang nggak suka durian. Jadi ekspresi yang tertangkap kamera itu bukan sekedar akting, melainkan memang ekspresi naturalnya. Apalagi Tim harus take adegan ini hingga 5 kali. Hmm, mamam tuh durian! Hahaha…

Yang lebih sial lagi, di adegan yang sama, Tim ternyata juga harus makan makanan lain yang nggak disukainya, yaitu lawar (makanan tradisional Bali). "Oh my goodness. I had to eat lawar and durian in one scene! I really don't like it. After the shooting, I forced everyone to eat it!" Hahaha, rupanya Tim nggak mau "menderita" sendirian.

9. Mike Lucock juga turut serta dalam produksi Saranghae. Selain berperan sebagai Bambang, ia ternyata juga mendapat tugas sebagai translator. Karena Mike punya kemampuan bahasa Inggris yang bagus, jadi ia turut membantu mengawasi penggunaan dialog bahasa Inggris dalam Saranghae (FYI, dialog Saranghae diucapkan dalam 3 bahasa, yaitu bahasa Korea, Inggris dan Indonesia).


10. Pemandangan matahari terbenam di Pantai Kuta memang pemandangan yang cantik. Ini pulalah yang diincar oleh tim Saranghae. Yang lucu, selesai syuting di Pantai Kuta, ternyata Tim lagi-lagi keluar isengnya! Ia memanggil para kru untuk menghampirinya lalu… menyeburkan mereka ke laut! Iseng!



CATATAN: Penasaran dengan semua lokasi syuting Saranghae? Jangan khawatir, untuk ke depannya, Saranghae dan Korea Tourism Organziation punya rencana untuk membuat Saranghae Tour Package, dimana anda akan diajak untuk mengunjungi berbagai lokasi syuting Saranghae di Korea. Di antaranya adalah Gyeongbok Palace, Hongdae, Lotte World, dan Pyeong Chang Alpencia.

FOTO: Dok. ATE (Asia Top Entertainment), Lescha Mayseeta Caesariany (GADIS)
Source : http://www.iyaa.com/hiburan/film/1348542_2536.html

BoA: Kenapa Aku Yang Harus Selalu Membukakan Jalan?

BoA: Kenapa Aku Yang Harus Selalu Membukakan Jalan?
Baru-baru ini BoA mengungkapkan rasa tidak senangnya atas beberapa hal yang ia alami selama masa training bertahun-tahun. Pada acara WIN WIN yang ditayangkan pada tanggal 29 Mei, BoA menceritakan alasan kenapa tinggi badannya cukup rendah dibandingkan artis-artis lain.

Pada episode tersebut sebuah pertanyaan muncul untuk BoA, "Apakah selama kamu menjadi trainee, kamu sering dimarahi?" BoA pun menjawab, "Aku sering diminta menurunkan berat badan."

Diet yang harus dijalani untuk menurunkan berat badannya di usia 14 tahun inilah yang menurut BoA menjadi salah satu penyebab ia tak bisa tinggi. "Apa kau pikir aku bisa bertumbuh saat aku harus menurunkan berat badanku di usia yang masih sangat muda? Mungkin  aku akan menyimpan dendam atas ini selamanya," ungkap BoA.

Selain tentang diet, BoA juga menyampaikan betapa sulitnya masa debutnya di Jepang. Ia mengatakan," Girls Generation dan SHINee masing-masing memiliki interpreter, tapi tidak dengan aku dan TVXQ. Kami harus menjalani serangkaian interview saat kami baru sehari debut di Jepang, dan seperti apa pun kerasnya kami belajar, sangat sulit untuk berbicara (dalam bahasa Jepang)."

BoA melanjutkan, "Setelah beberapa waktu, akhirnya banyak pertanyaan dalam interview tersebut yang diulang, dan akhirnya kami hanya harus menghafalkan jawaban kami. Aku tidak suka dipanggil pionir karena... kenapa harus aku yang selalu membukakan jalan?"


Source : Soompi
Credit : kapanlagi
Share : allaboutkoreaandjapan.blogspot.com

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...